PONOROGO, 19 Mei 2026 – Dalam rangka menyukseskan gerakan peduli lingkungan menuju capaian Sekolah Adiwiyata Ponorogo, para siswa sukses menggelar aksi lingkungan kreatif bertajuk PAPIKRA (Pemanfaatan Plastik Kreatif) pada Selasa (19/5/2026).
Kegiatan yang berpusat di area halaman sekolah ini difokuskan pada pengelolaan sampah anorganik serta perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Kedua aspek ini merupakan indikator penting dalam penilaian Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS).
Pihak sekolah memusatkan kegiatan ini di area halaman dan selasar kelas. Sebab, sekolah ingin memfokuskan program pada pengelolaan sampah anorganik serta perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain itu, kedua aspek tersebut merupakan indikator penting dalam penilaian Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS).
Siswa Menerapkan Prinsip 3R Melalui Kreasi Botol Bekas
Pada awalnya, botol plastik bekas kemasan air mineral sering kali menumpuk dan mencemari lingkungan sekitar. Namun, para siswa yang mengenakan seragam olahraga bernuansa hijau-toska ini tidak tinggal diam. Sebaliknya, mereka dengan antusias melakukan daur ulang dan mengubah limbah anorganik tersebut menjadi pot-pot tanaman yang bernilai estetis.
Melalui aksi ini, siswa mempraktikkan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle) secara nyata. Bukan hanya itu, edukasi berbasis praktik ini juga mendidik siswa agar mereka mampu memilah sampah secara mandiri. Dengan demikian, seluruh warga sekolah dapat menekan volume pembuangan sampah harian secara signifikan.
Kepala Sekolah Mendukung Penuh Gerakan PBLHS
Kepala Sekolah, Ibu Umi Widyawati, memantau langsung kegiatan ini dan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kreativitas siswa. Menurut beliau, program PAPIKRA merupakan bagian dari aksi kolektif yang melibatkan seluruh elemen sekolah demi menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup.
“Kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa sampah bukanlah akhir dari sebuah barang, melainkan awal dari kreativitas baru. Oleh karena itu, melalui PAPIKRA, siswa tidak hanya mempelajari teori mencintai bumi, tetapi mereka juga langsung mempraktikkannya. Ini adalah langkah nyata kami dalam memenuhi komponen gerakan PBLHS demi mewujudkan Sekolah Adiwiyata Ponorogo yang berkelanjutan,” tegas Ibu Umi Widyawati.
Siswa Berkolaborasi Mempercantik Sekolah dengan Vertical Garden
Sementara itu, suasana di lokasi menunjukkan bahwa atmosfer kerja sama tim antar siswa berjalan sangat kompak. Agar target karya mereka selesai tepat waktu, para siswa membagi kelompok kerja secara terorganisir.
Selanjutnya, setiap anggota kelompok memegang tanggung jawab masing-masing, yaitu:
-
Siswa pertama bertugas mengumpulkan dan membersihkan botol plastik.
-
Kemudian, siswa kedua memotong botol bekas tersebut sesuai dengan pola.
-
Akhirnya, siswa ketiga melakukan proses akhir (finishing) berupa pengecatan pot menggunakan warna biru cerah.
Setelah proses pengecatan selesai, pihak sekolah akan langsung memanfaatkan pot daur ulang ini untuk menanam tanaman hias dan tanaman obat (toga). Lalu, para siswa akan menyusun pot-pot tersebut menjadi taman vertikal (vertical garden) supaya dapat memperindah dinding kelas dan koridor.
Melalui program berkelanjutan ini, pihak sekolah optimis dapat menciptakan lingkungan belajar yang asri, bersih, dan sehat. Maka dari itu, sekolah kini siap melangkah mantap dalam penilaian mandiri Sekolah Adiwiyata Ponorogo.
Penulis: Tim Humas Sekolah
Editor: Redaksi Berita Online Sekolah